CERITA SEMESTA [BEING A MOM!]

Jadi ceritanya gini…

Menginjak usia kandungan 36 minggu kurang lebih, aku memutuskan untuk kontrol ke bidan. Selain mikirin biayanya yang lebih hemat, karena mesti 1 minggu sekali kontrol. Sedangkan sejauh ini aku merasa si bayi masih baik-baik aja masih anteng-anteng aja. Pecaya kalau semua juga masih normal, jadi aku gak butuh-butuh banget ke dokter. Hasilnya memang benar, setiap kontrol ke bidan aku selalu dapat diagnosa yang sama. Ketuban cukup, bayi sudah di bawah, jantungnya juga normal. Semuanya sehat.

Sampai ke pemeriksaan 4 hari sekali mulai usia 38 minggu. Hasilnya pun masih sama. Disini aku dan suami udah mulai resah. Karena si bayi gak menunjukan tanda apapun untuk mau keluar. Bidan menyarankan untuk induksi, dengan optimis dia bilang ke kami “pasti bisa normal kok bu!” Yes, dan itu adalah afirmasi aku setiap hari. “Aku pasti bisa melahirkan normal alami, tubuh aku di design untuk melahirkan secara normal. Allah akan membantu dan melindungi aku selama prosesnya.”

Setiap mau tidur aku selalu yoga, karena udah gak karuan gatel-gatel dan gak bisa tidurnya. Jadi aku pikir sedikit exercise bisa lebih cepet bikin ngantuk. Ternyata enggak juga hahaha. Selain itu, setiap pagi aku selalu jalan kaki. Lebih dari 30 menit bahkan, yang dianjurkan. Setiap jalan ke pasar beli nanas, atau jus nanas. Makan kurma, minum susu coklat(ini kata mamaku, karena dulu dia mancing kontraksi pake susu coklat UHT), deep squat. Segala macem anjuran induksi alami aku praktekin.

12 Agustus 2018

Dihari minggu tanggal 12 Agustus 2018, aku sempet ke IGD. Dengan harapan mau melahirkan hari itu, karena tetiba ada air ngucur gak ketahan pas lagi main gymball selesai jalan pagi. Wah seneng banget tuh. Tapi gak ada mules sama sekali. Happy banget aku dan suami langsung ke RS. Aku di CTG dan periksa kertas lakmus, dan bidannya bilang ini bukan air ketuban. Lanjut periksa dalem. Udah bukaan 1. Alhamdulillah, ada bukaan artinya semakin dekat ketemu sama bayi.

16 Agustus 2018

Dua hari sebelum due date, aku memutuskan untuk cek dokter. Sebenernya cuma untuk update pemeriksaan. Dimanapun lahirannya nanti (bidan atau rumah sakit) ada catatan pemeriksaan terakhirnya. Jadi mau bidan atau dokter udah ada kondisi terkini kandungan aku. Hasilnya pun sama, dokter bilang apa yang bidan bilang. Tapi si dokter gak pake periksa dalam, dan tanggal 18 Agustus aku diminta balik lagi buat CTG.

18 Agustus 2018

Jam 09.30 wib, aku dan suami kembali ke rumah sakit, gak pake ketemu dokter. Karena di catatan terakhirnya memang aku diminta untuk langsung ke ruangan bersalin untuk cek jantung bayi. Lalu bidan langsung ambil alat, dan cek jantung si bayi. 20 menit kemudian keluar hasilnya, dan bayi kurang reaktif. Bidan konsultasikan ke dokter Obgynku dan langsung di intervensi “Ini harus di operasi bu kata dokter, karena keadaan bayi udah reaktif. Dokter gak mau ambil resiko.” WHAAATTTT??? Seketika shock, takut, campur aduk. Aku lupa dan gak dengerin pemeriksaan terakhir kalau harus makan cukup dulu baru di CTG. Sedangkan waktu itu aku cuma makan 2 potong pisang sama susu kedelai.

Ngerasa pemeriksaan ini belum optimal, karena aku belum makan yang cukup. Keadaan laper, sehingga berakibat bayi kurang reaktif. Aku minta suami buat tanda tangan penolakan operasi, aku minta buat makan dulu. Dikasihlah kesempatan untuk makan, sebelum di CTG ulang. Sambil setelah makan, aku coba buat bergerak. Semua yoga yang pernah aku tonton, aku pelajari dan gymball yang udah dibawa digunakan seoptimal mungkin. Jongkok berdiri terus, sampe bidan dan dokter dateng untuk cek pembukaan. Maju ke pembukaan 2, tapi kepala si mas masih oglek-oglek. Belum stay di tempatnya. Optimis dan seneng, ternyata ada kemajuan pembukaan. Bidan dateng lagi dan melakukan CTG ulang. 20 menit kemudian, Alhamdulillah ternyata memang si bayi kurang makan.

Tapi, masalahnya dari seminggu yang lalu aku gak ada kontraksi teratur atau mules yang berarti. Dokter dan bidan menawarkan untuk diinduksi. Katanya induksi lebih sakit daripada alami. Aku optimis untuk induksi, toh belum pernah juga gitu ngerasain kontraksi yang sakit. Jadi ya santai aja. Lalu jam 15.00 wib tindakan induksi dilakukan, dengan interval waktu 6 jam. Induksi pertama bidan lakukan dengan memasukan obatnya melalui miss V. Disini pun aku minta ijin untuk bergerak terus. Satu jam pertama induksi, aku cuma boleh miring kiri dan tiduran. Yang aku tau kalau tiduran doang mah, mana bisa nambah pembukaan.

Setelah satu jam aku colongan ikut suami jajan BK sebelah RS. Padahal cuma boleh explore sekitar ruang observasi aja, ada tangga 4 lantai. Tapi ya udahlah, toh badan aku masih seger-seger aja. Kontraksi mulai berasa, kram-kram kaya mau mens. Munculnya pun teratur. Tapi aku masih penasaran, mana sih yang katanya sakit banget? Kok aku biasa aja, memang lebih sakit dari kram bulanan biasa. Aku masih bisa ketawa-ketawa kok sama suami, masih bisa sesantai itu ngerasainnya gak sakit-sakit amat. Mungkin karena afirmasi ingin lahiran santai dan nyaman atau memang ini induksi masih tahap satu, masih ada tahapan selanjutnya. Menunggu 6 jam. Semua gerakan aku lakuin. Ngemil yang banyak biar punya tenaga buat ngeden nanti. Udah kabarin keluarga juga soal keputusan yang kami ambil. Biar mereka siap-siap menyambut tamu agung yang sebentar lagi akan datang. Terutama mama, aku minta maaf sama beliau yang melahirkan aku. Minta doanya agar prosesnya lancar.

Selama kontraksi, aku selalu bilang “Yuk mas, turun yuk. Bentar lagi ketemu ibu bapak loh. Langsung bukaan 4 ya nak”. Sekitar jam 9 apa jam 10 malem aku baru di CTG lagi, lewat dari interval induksi. Cek pembukaan, masih di pembukaan 2. Disitu aku mulai cemas, mungkin belum mau show off kali ini bayi. Stay cool, relaks dan berdoa semoga nambah pembukaan abis ini. Cerita lahiran temen-temen pun ada yang 24 jam pembukaan 2 kok. Aku juga pasti bisa.

Satu jam lebih menunggu, sekitar jam 23.30 wib bidan datang menghampiri kami. Bilang kalau kontraksi udah teratur, tapi pembukaan enggak nambah dan keadaan bayi kurang reaktif. Dari pada bayinya kenapa-kenapa, harus tindakan operasi. Dengan riwayat lilitan dileher juga, rasanya memang aku khawatir kalau dia kelilit keceng dan kekurangan oksigen. Gak kepikiran pun hari itu bakal lahiran. Cuma mikir cek kandungan biasa aja.

Momen ini yang bener-bener beraaaattt rasanya untuk pengen kukuh pendirian pasti masih bisa normal. Tapi keadaan CTG tidak memungkinkan. Suamiku langsung peluk erat, air mata kami tak bisa terbendung. Bahwa kami percaya, ini jalan yang anak kami pilih. Streeeess banget rasanya, semuanya gak karu-karuan. Sampai mau di infus pun, pembuluhnya bengkak. Padahal dulu sering di rawat dan pernah di operasi. Gak pernah sekaku ini.

19 Agustus 2018

Akhirnya jam 00.20 tanggal di depan ruang OK yang super dingin itu, aku dan suami berdoa. Sebentar lagi akan bertemu anak yang kami tunggu-tunggu. Aku masih terus menangis, karena masih gak terima harus operasi. Operasi yang paling aku takutin selama hidup. Harus terjadi juga.

Aku gak mau operasi SC

Ada yang bilang kalau SC itu gak sakit, enak tinggal di “belek” abis itu bayinya keluar. Gak perlu ngeden, gak perlu ngerasain kontraksi. Tinggal dibius, tiduran, abis itu denger suara malaikat kecil penghilang rasa sakit. Memang ketika mendengar suara tangisan itu, seketika aku lupa rasanya disuntik bius di punggung. Tapi proses mengeluarkan si bayi ini harus di dorong oleh semua tim operasi, rasanya kaya ketiban beban berat banget sekujur tubuh. Sesak, gak bisa nafas. Kaya mau mati rasanya. Gak berdaya, gak bisa teriak. Gak bisa apapun selain ikhlas, pasrah, berdoa dan teler.

00.47 wib yang ngalahin itu semua adalah sesaat setelah tangisan bayi, ibu gak boleh nangis kata dokter. Bidan antar si bayi untuk IMD, dan byaaaaarrrr air mata terjun bebas. Sesek pun aku nikmatin, karena ini adalah sejarah hidup aku. Ya Allah, ini anak yang ada di dalam kandungan aku selama 9 bulan. Anak yang ibu bawa-bawa naik gojek, ikut event ini itu. Makasih ya nak, udah pilih kami sebagai orang tua. Dihari itu juga kami resmi menjadi Ibu dan Bapak bagi anak lelaki yang kami beri nama Semesta Galatika Bachar.

Setelah ini, jadilah ibu bapak yang masih magang di trimester 4. Welcome to the sleepless night every day, i love you suami, we love you Sega. Semesta kami!

4 Comments

  1. Hanum

    September 9, 2018 at 2:55 pm

    Ini hal yg sm yg gue alamin rin, hancur berkeping setelah perjuangn smp pembukaan 10 gue hrs SC.
    Tp bersyukur udh pernh ngerasain bnyk perjuangn ngelahirin , mngkn emng anak gue ksian liat gue meringis skt, smp ga tega dan dy memilih kluar lewat proses SC. Nangis gue baca crta semesta. Inget rasanya gue dl lhirin Sya.

    Btw slmt ya rin , welcome to the new mom ūü§óūüíč

    1. karinakamil

      September 9, 2018 at 6:54 pm

      Iya num, kita udah ngerasain kontraksinya iya sama sakit pasca SC juga iya. Tapi memang ini jalan kita buat ketemu sama si anak. Bismillah perjuangan mulai dari sini ‚̧ԳŹ

  2. Puni

    September 14, 2018 at 1:43 pm

    Nangis :”””””((((

    Terima kasih buat sharing ka orin, perjuangan dan keikhlasannya menginspirasi, salut euy…

    1. karinakamil

      September 14, 2018 at 3:28 pm

      Bismillah, semua perempuan pasti merasakan perjuangan yang beda-beda. Ternyata kita sekuat itu ya ūüôā

Leave a Reply

Scroll Up