Ilustrasi lifestyle pasien diabetes dalam mengatur tekanan darahnya.
Lifestyle

Bukan Hanya Pasien Diabetes, Hipoglikemia Bisa Terjadi Saat Berpuasa

May 4, 2019

Saya termasuk dari gen turunan penyakit gula atau diabetes. Mama saya penderita diabetes, dia ditinggalkan oleh saudara-saudarinya juga dari penyakit yang sama. Makanya besar kemungkinan saya dan bahkan anak saya terkena penyakit ini jika tidak bisa menjaga pola makan yang baik dan menekan asupan gula.

Beberapa hari yang lalu saya hadir ke sebuah acara yang ternyata menambah pengetahuan saya tentang gula darah. Ternyata hal ini bisa loh terjadi kepada orang yang bahkan bukan pasien diabetes.

MSD Inventing for Life mengedukasi tentang bahaya Hipoglikemia.
MSD Inventing for Life mengedukasi tentang bahaya Hipoglikemia.

Apa itu Hipoglikemia?

Hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah tubuh (glukosa) terlalu rendah, yaitu di bawah 70mg/dL. Orang dengan penyakit diabetes lebih rentan mengalami kondisi ini karena mereka sering menggunakan insulin buatan atau obat-obatan tertentu untuk menurunkan kadar gula di darah. (sumber: Hellosehat.com)

Gangguan kesehatan ini dapat terjadi secara tiba-tiba. Lebih parahnya lagi kalau tidak buru-buru diobati, kondisi ini bisa memburuk dan menyebabkan masalah yang serius. Sebaliknya juga, penanganan yang cepat dan tepat dapat membantu mengembalikan kadar gula darah rendah kembali ke kisaran yang normal.

Siapa saja yang dapat terkena gangguan Hipoglikemia?

Hipoglikemia adalah kondisi yang umum. Sering sekali dikaitkan dengan riwayat diabetes, tetapi gula darah rendah juga bisa saja loh dialami oleh orang yang tidak memiliki penyakit tersebut. Tetapi memang resikonya semakin besar bagi pasien diabetes ketika berpuasa.

Tentu saja informasi ini menyadarkan saya. Betul, sehat itu mahal ya? Lalu jika gangguan ini bisa dialami selain pasien diabetes, siapa saja sih yang bisa mengalami Hipoglikemia? Menurut Prof. Dr. dr. Ketut Suatika, SpPD-KEMD, dokter spesialis Endokrinologi dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali ini menjelaskan:

Prof. Dr. dr. Ketut Suatika, SpPD-KEMD
(dokter spesialis Endokrinologi dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali)
  1. Pasien usia lanjut
  2. Pasien dengan penyakit penyerta
  3. Orang dengan kebiasaan makan yang tidak teratur
  4. Orang yang memiliki kebiasaan minum alkohol berat
  5. Mengalami perubahan aktivitas fisik

Itulah mengapa adanya diet atau mengatur pola makan ya, sengaruh itu terhadap kemungkinan terjadinya gangguan-gangguan pada tubuh. Lalu langsung berkaca pada diri sendiri, karean saya makannya tidak teratur. Bisa hari ini makan dua kali sehari atau sehari sekali hehehe. Jangan di contoh ya, sama aja menumbalkan diri pada penyakit.

Hipoglikemia juga terdapat klasifikasi siapa-siapa saja yang boleh dan tidak boleh melakukan ibadah puasa:

Prof. Dr. dr. Ketut Suatika, SpPD-KEMD juga menyebutkan jika selama Ramadhan, terjadi peningkatan insiden hipoglikemia yang signifikan pada pasien DMT2(Diabetes Melitus Tahap 2). Karena pasien DMT2 mengalami kekurangan zat gula dari makanan yang dicerna dan diserap, sehingga kadar gula dalam tubuh menurun secara drastis.

Menejemen puasa bagi pasien Diabetes

Oleh karena itu, penting bagi pasien DMT2 melakukan konsultasi dengan dokter sebelum menjalani ibdah puasa untuk mendapatkan rekomendasi manajemen puasa yang tepat dan meminimalisir risiko Hipoglikemia.

Selain itu, usaha yang bisa dilakukan pasien DMT2 dalam menghindari Hipoglikemia adalah diet seimbang; olahraga aktif; pantau kadar gula darah secara rutin; serta melakukan perubahan pengobatan yang memicu pelepasan insulin berlebih. Hipoglikemia bila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kejang dan hilang kesadaran.

Berdasarkan studi Aravind SR pada tahun 2011 dengan metode observasional menunjukkan 20% dari 1.378 pasien DMT2 mengalami hipoglikemia selama mengonsumsi sulfonilurea pada bulan puasa.[1]Studi tersebut kemudian dilanjutkan pada tahun 2012, di mana Aravind melakukan perbandingan konsumsi kelas terapi DPP4i dengan sulfonilurea. Hasil studi menunjukkan penggunaan kelas terapi DPP4i pada pasien DMT2 terbukti menurunkan risiko hipoglikemia sampai dengan 50% dibandingkan dengan sulfonilurea.[2]

Press release MSD

[1]Hypoglycaemia in sulphonylurea-treated subjectswith type 2 diabetes undergoing Ramadanfasting: a five-countryobservational studyARAVIND SR, 2011

[2]Hypoglycaemia in sulphonylurea-treated subjects with type 2 diabetes undergoing Ramadan fasting: a five-country observational study.

Anjuran mengendalikan gula darah selama berpuasa untuk menghindari Hipoglikemia

Untuk mengendalikan kadar gula darah dan mencegah hipoglikemia, pasien DMT2 dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang melepaskan energi secara lambat  seperti biji-bijian, beras merah, produk susu rendah lemak dan kacang-kacangan saat sahur dan buka puasa; menghindari makanan yang mengandung lemak jenuh tinggi; meningkatkan asupan cairan selama jam tidak berpuasa; serta yang terpenting mengunjungi dokter untuk mendapatkan rekomendasi manajemen diabetes selama bulan puasa.

Jadi bagi kamu yang memiliki tingkat resiko tinggi yang saya sebutkan diatas, kurangi dulu makan makanan santen dan gorengan. Biasanya di bulan puasa makanan ini sangat menggoda. Mulai lah untuk aware dengan makanan yang dapat memicu terjadinya Hipoglikemia. Saya sendiri akan mengingatkan ibu saya. Selamat menjalankan ibadah puasa semuanya!

xoxo

karin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *