CERITA VIARA, MELAWAN GANGGUAN GINJAL SELAMA 8 TAHUN

Bagaimana dengan Viara, yang harus berjuang selama 8 tahun dengan ginjalnya yang tidak sempurna? Sungguh tak terbayang ya mom, kalau itu sampai terjadi pada si Kecil kita.

Ginjal adalah salah satu organ penting dalam tubuh manusia, selain jantung, otak dan hati. Fungsi ginjal sangat vital yaitu meliputi detoksifikasi darah; membantu tubuh untuk menyaring limbah dan membuangnya melalui urin; menjaga keseimbangan garam dan mineral dalam darah; serta mengatur tekanan darah dan memproduksi sel darah merah.

Pada 13 November 2018 aku diundang oleh Kementrian Kesehatan RI untuk mendapatkan briefing mengenai gangguan ginjal pada anak. Dihadiri oleh kidney survivornya langsung yaitu Viara. Long story, Viara Hikmatun Nisa (14 tahun) adalah anak dari pasangan ibu Inwaningsih dan bapak A. Syaihul Hady. Mereka berasal dari Nganjuk. Pada awalnya Viara melakukan operasi usus buntu, karena terjadi penempelan pada ususnya yang berakibat harus dioperasi lagi dan dibuka ditempat yang sama ususnya menjadi busuk yang berujung tidak ada nutrisi yang terserap ke tubuhnya sehingga merembet ke ginjal dan divonis gizi buruk.

Sedih dan terpukul perasaan keluarganya, anak umur 4 tahun harus bulak-balik kamar operasi dan tidak bisa bermain seperti teman-temannya yang lain. Koma selama 50 hari harus Viara lalui juga dengan keadaan ekonomi keluarga yang secukupnya. Namun dengan semangat ayahnya yang yakin bahwa Viara bisa sembuh, segala cara dilakukan agar tercukupi biaya perawatan rumah sakit. Akhirnya Viara dibawa ke RSCM bertemu dengan dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp.A(K) beliau adalah UKK Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Unit kerja kelompok.

Baca juga: MengASIhi

Selama mendampingi Viara, ayahnya mencatat semua kisah tentang anaknya hingga tercipa sebuah buku. Dengan hasil penjualan buku ini pula biaya perawatan terbantu. Lewat dr. Eka juga akhirnya keadaan Viara semakin baik, dengan rutin mencuci darah. Saat ini Viara dalam antrian transplantasi ginjal, agar keadaannya semakin membaik lagi. Semangatnya untuk sembuh sangat menginspirasi, bahkan dia anak yang rajin dan kreatif.

Sambil cuci darah, Viara mengisinya dengan menggambar.

Secara umum gangguan ginjal kita ketahui menyerang orang dewasa, tenyata enggak loh moms. Gangguan ginjal juga ditemukan pada anak-anak.

Menurut informasi yang aku dapatkan di Kementrian Kesehatan RI dan dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp.A(K) sebagai perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia. Berdasarkan kronologis atau waktu terjadinya, gangguan ginjal pada anak terbagi menjadi dua, yaitu bawaan sejak lahir dan didapat setelah lahir. Gangguan ginjal bawaan sejak lahir umumnya ditandai dengan adanya kelainan bentuk ginjal dan saluran kemih. Sedangkan gangguan ginjal yang didapat setelah lahir biasanya ditandai dengan infeksi saluran kemih dan radang ginjal akibat berbagai proses yang bukan infeksi.

Gangguan ginjal pada anak sendiri terbagi dua yaitu gangguan ginjal akut dan kronik. Gangguan ginjal akut merujuk pada kondisi di mana ginjal anak mengalami kerusakan fungsi secara mendadak. Penyebabnya adalah penyumbatan sistem penyaringan ginjal oleh sel darah merah yang hancur, trauma luka bakar, dehidrasi, pendarahan, cidera atau operasi. Sedangkan gangguan ginjal kronik adalah kondisi penurunan fungsi ginjal anak secara bertahap selama kurun waktu tiga bulan atau lebih. Anak dengan gangguan ginjal kronik akan mengalami penurunan fungsi penyaringan kotoran, kontrol jumlah air dalam tubuh, serta kadar garam dan kalsium dalam darah. Akibatnya zat-zat sisa metabolisme yang tidak berguna akan tetap tinggal dan mengendap dalam tubuh anak sehingga lambat laun membahayakan kondisi kesehatannya.

Bersama ibu dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes – Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan RI
dr. Eka Laksmi Hidayati, Sp.A(K)

Menurut data global, prevalensi gagal ginjal tertinggi terjadi di kawasan Asia yaitu 51-329 jiwa per 1 juta populasi anak; Eropa 55-75 jiwa per 1 juta populasi anak; dan Amerika Latin 42.5 jiwa per 1 juta populasi anak. Sementara itu, data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan pada 2017 terdapat 212 anak dari 19 RS di Indonesia yang mengalami gangguan ginjal dan menjalani cuci darah. Artinya kita harus semakin aware terhadap bagaimana mencegah gangguan ginjal pada anak-anak Indonesia. Sosialisasi hidup sehat tentang pentingnya mengkonsumsi sayur dan air putih setiap hari.

Gangguan ginjal tidak dapat hilang dengan tindakan pengobatan dan cenderung memburuk dari waktu ke waktu. Jika gejala gangguan ginjal pada anak tidak terdeteksi sejak dini dan tidak ditangani segera, maka pada saat dewasa kondisinya akan mengarah ke gagal ginjal yang perlu diobati dengan metode transplantasi ginjal atau perawatan penyaringan darah.

Tanda-tanda dan gejala gangguan ginjal, diantaranya :

  • Mual dan muntah
  • Hilangnya nafsu makan
  • Perasaan lemah dan lesu
  • Sesak napas
  • Sakit perut
  • Masalah mulut
  • Frekuensi buang air kecil meningkat, terutama di malam hari
  • Mati rasa, kesemutan, terbakar kaki panas dan tangan
  • Kram otot dan kejang otot
  • Gangguan tidur
  • Kulit gatal
  • Menurunnya ketajaman mental
  • Tekanan darah tinggi yang sulit dikontrol
  • Nyeri pada dada karena penumpukkan cairan di sekitar jantung
  • Pembengkakkan pada pergelangan kaki dan tangan

Adapun gangguan ginjal erat kaitannya dengan suatu penyakit atau kondisi merusak fungsi ginjal. Penyakit dan kondisi kesehatan tersebut, yaitu :

  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi
  • Glomerulonefritis atau peradangan pada ginjal
  • Gangguan ginjal polikistik
  • Obstruksi saluran kemih berkepanjangan
  • Refluks Vesicoureteral, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan urin kembali ke ginjal.
  • Pielonefritis atau infeksi ginjal berulang
  • Diabetes tipe-1 dan tipe-2
  • Penggunaan obat-obatan tertentu

Meskipun gangguan ginjal tidak selalu dapat dicegah, beberapa langkah dibawah ini bisa diterapkan untuk menghambat kemungkinan terjadinya gangguan ginjal pada anak. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan:

1. Menangani penyakit yang mendasari terjadinya gangguan ginjal. Jika si Kecil memiliki kondisi kesehatan jangka panjang yang menjadi penyebab gangguan ginjal, seperti diabetes dan hipertensi, maka sebagi orang tua harus memastikan kondisi kesehatan itu terkontrol, baik dengan menjalani gaya hidup sehat maupun konsumsi obat-obatan teratur.

2. Menghindari merokok dan atau Asap rokok. Merokok meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke, yang dikaitkan dengan risiko gangguan ginjal yang lebih tinggi. Maupun asap rokok ya moms! Perokok pasif lebih berbahaya dari perkok aktif, apalagi bayi atau anak dibawah umur terkena paparan asap rokok.

3. Konsumsi makanan sehat. Mengonsumsi gizi seimbang dan konsumsi air putih secukupnya setiap hari dapat menurunkan risiko gangguan ginjal dengan mengontrol tekanan darah dan kadar kolesterol dalam tubuh.

4. Olahraga teratur. Aktivitas fisik dapat menjaga tekanan darah tetap stabil dan menurunkan risiko gangguan ginjal. Setidak bergerak, jalan kaki adalah yang paling mudah dilakukan bahkan berasama anak. Jika malas untuk melakukan olahraga tertentu

Makanya sebagai orang tua, kita harus tahu bagaimana mencegah sebelum itu terjadi. Mulai dari bagaimana menghindarinya, gejalanya, sampai kemana kita harus berkonsultasi jika si Kecil mengalami hal tersebut.

Sesi foto bersama Viara pejuang gangguan ginjal yang kreatif dan inspiratif

Moms bisa membantu pengobatan Viara dengan membeli bukunya yang berjudul “Gadis Kecilku”. Bahkan anak sekecil Viara juga membuka usaha online via Tokopedia dan Bukalapak. Menjual buah tangannya berupa gelang dan aksesoris lainnya.

Kita gencarkan Gerakan Ayo Minum Air (AMIR) yuk, moms! Agar senantiasa merawat kesehatan ginjal dan seluruh tubuh dengan 8 gelas sehari. Untuk ibu menyusui tentunya lebih banyak ya bu!

xoxo,

karin

Leave a Reply

Scroll Up