Lifestyle

Gue Anak Radio season 2: Pencarian Potensi Era 4.0

November 14, 2019

Kita adalah lentera, terang bagi yang gulita. Tuk cerahkan dunia...

Mungkin sebagian dari kamu sudah beralih ke software buatan manusia, tapi kamu lupa kalau kamu butuh manusia itu sendiri. Melalui radio, kamu bisa menghadirkan teman yang tidak perlu kamu tampilkan wujudnya tapi kamu bisa dengar suaranya kamu bisa rasakan kehadirannya. Ya, inilah kenapa Radio sampai sekarang tetap ada dan akan terus ada.

Apa itu Gue Anak Radio?

Kalau kamu familiar dengan ajang pencarian bakat di televisi, Gue Anak Radio ini versi audionya. Digelar oleh Mahaka Radio Integra, sebuah grup media dengan anak perusahaan radio analog dan digital. Gak mungkin kalau kamu gak tau Jak 101 fm, Gen 98.7 fm (ada Gen Fm Surabaya juga), Kis 95.1 FM, Mustang 88.0 fm, Hot 93.2 fm, Most 105.8 fm dan yang terakhir dengan bentuk radio digital adalah aplikasi Noice.

Pencarian bakat ini terbagi menjadi 3 kategori: Announcer, News Presenter dan Podcaster. Dari 6000 pendaftar kami disaring menjadi 100, lalu di kerucutkan lagi ke 50, sampai saat ini sudah di tahap 25 besar. Nantinya akan dipilih 1 pemenang untuk mendapatkan kontrak kerja, trip ke Australia dan Uang Tunai sebesar Rp. 15 juta.

Apa hubungannya dengan Era 4.0?

Istilah 4.0 merupakan Revolusi Industri yang terbaru, karena revolusi ini memberikan efek yang signifikan terhadap berbagai aspek ekonomi. Semua hal bisa diautomatisasi tidak perlu lagi banyak menggunakan tenaga manusia. Jika dikaitkan dengan industri ini bisa dikatakan digitalisasi atau IOT (Internet of Things)

50 besar Gue Anak Radio season 2
50 besar Gue Anak Radio season 2

Pendengar radio bukan lagi soal theater of mind, yang hanya bisa mendengar sambil membayangkan bagaimana sosok penyiarnya. Di era instagram, instagram story, facebook, facebook live, twitter, youtube, semua social media dari si penyiar ini bisa kamu ikuti. Bahkan kebiasaan mereka sehari-hari kamu hafal.

Radio kini juga bukan hanya on air lewat frekuensi, tapi streaming via digital, in person lewat event off air dan inilah yang disebut dengan Radio 4.0. Semua terintegrasi. Radio dan digital bukan rival, tapi kolaborasi. Semua media baik on air, off air, digital saling terhubung dan saling melengkapi content.

Workshop, Mentoring dan Persahabatan

Dari mulai tersaring ke 100 besar, 50 besar, hingga nanti final, peserta yang lolos ke setiap tahapnya selalu mendapatkan kelas yang speakersnya orang-orang ahli dibidangnya. Biasanya kami juga diberi assignment atau tugas untuk menambah menilai performa kami di kategorinya masing-masing. Kadang dibagi-bagi ke dalam kelompok ataupun personal.

Seru, menantang, menyenangkan!

Kelompok kami waktu dapet challenge di Car Free Day dengan mento Kak Adhi penyiar Mustang Morning Squad.

Selain itu juga kami didampingi oleh mentor-mentor yang juga adalah penyiar-penyiar dari Mahaka Radio Integra. Tetang menilai orang lain, tentang bagaimana membuat teamwork, atau tentang mendeskripsikan diri sendiri. Terpenting dari gathering ini adalah kami menemukan sahabat baru satu sama lain, supportive dan solid. Group Whats App 100 besar kami pun masih ramai setiap hari.

Menjadi Podcaster

Dari 3 kategori di ajang ini, saya memilih untuk menjadi podcaster, kenapa? Karena dengan bercerita saya bisa menyampaikan keresahan, dengan bercerita saya melakukan healing, dengan bercerita saya melakukan terapi.

Menulis dalam psikologis adalah bentuk terapi bagi seseorang yang di diagnosa masalah kesehatan mental. Dengan menulis dan mengungkapkan isi hati ke dalam tulisan, bisa meredam segala bentuk tekanan. Setelah ditulis dan dibaca ulang kita bisa tau apa yang terjadi pada : pikiran, perasaan dan perilaku. Karena 3 hal tersebut adalah sinyal jika terjadi perubahan pola di dalam kesehatan mental seseorang. Kenapa saya bisa bilang soal itu? Saya datang ke Metal Health Festival, belajar bagaimana cara Memahami diri.

Sama halnya dengan bercerita melalui bicara, saya bisa menyampaikan atau menyambungkan apa yang saya ketahui ke khalayak ramai. Melalui podcast menjadi seorang podcaster saya mempunyai movement: “Ingin menjadi sahabat perjalanan ibu dimasa transisinya” dalam bentuk audio.

Apa sih bedanya Podcaster dengan Radio Announcer?

Dari kelas Kemal Mochtar saya dapat beberapa insight yang menarik. Saya baru tahu secara spesifik ternyata ini bedanya radio announcer dan podcaster selain secara durasi:

  1. Topiknya sangat Niche (spesifik, mengerucut, bukan general)
  2. Kontennya dipilih sendiri oleh pendengar atau on demand
  3. Durasi podcast bisa sampai 1 jam, terbukti kalo kamu dengar podcast di Spotify durasinya variatif.
  4. Very Global. Global disini podcast kamu bisa saja yang dengar sampai ke penjuru Afrika, trend podcast diluar negeri sedang naik daun.
  5. Competition is not tough as radio. Dari kelas Awwe & Randhika Djamil juga saya dapet insight kalau content podcast pasti ada kok marketnya buat dengerin. Jadi ngonten aja yang temanya kira-kira sesuai sama market yang kamu tuju.
  6. Dapat dilakukan sendiri. Yes! Saya pun punya podcast sendiri, dan semua produksi saya lakukan sendiri. Nyaris tanpa bantuan siapapun dan itu berjalan dengan mudah. Berbeda dengan radio yang butuh team work karena sifatnya kompleks dan banyak produksi.

Alasan saya diatas cukup mewakili kenapa saya ingin menjadi podcaster yang terlatih, yang kompeten. Saya ingin mengaktualisasi diri dan menyebarkan energi ini kepada ibu-ibu diluar sana kalau: Mom allow to catch her dream too!

Kami menyebutnya BuBelGAR2 atau Ibu-ibu Belia :’) Ya, kami bertiga seorang ibu dan kami berhak menggapai mimpi.

Semoga itu semua bisa terwujud dengan ataupun tanpa Gue Anak Radio 2. Bismillah, Allah choose me trough this journey. Win or lose, I’ll try my best to run this movement!

Siapa looo????

Gue anak radio?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *