I’M GETTING MARRIED!

Haiii, sebelum muncul postingan-postingan review product or everything. Rasanya aku pengen berbagi sama kalian soal personal lifenya aku.

Aku mo kewong beb!

Buat temen-temenku yang kenal aku, kalian pasti tau perjalanan aku untuk hal satu ini. And its finally! Jodoh, rezeki, mati Allah yang atur bukan aku. Jadi yang sudah dan akan terjadi aku percaya, sudah karena kehendakNya.

Sebelumnya, aku share dulu latar belakang keluarga. Pada awalnya, hal ini adalah hal yang paling aib yang gak mau aku ceritain ke siapapun. Sebab aku tumbuh punya karakter irisan, extrovert juga introvert(emang iya? wkwk). Aku besar di keluarga yang divorce. Duh bisa kalian bayangin kan, apalagi yang mengalami hal yang sama pasti tau banget. Paling anti kalo cerita soal keluarga sama temen-temen dll. Tapi mau gimana lagi, ini pilihan terbaik orang tua yang bisa mereka kasih untuk kita (mungkin).

They deserve happy on their life right?

Lama kelamaan aku pikir, ya memang kenapa kalo orang tua divorce? Apa hal itu yang menghentikan langkah kita untuk mencapai sesuatu? Apakah mereka berharap atas hal yang terjadi dengan mereka? Enggak dong!

Why I Have to Share This?

Processed with VSCO with m5 preset

We commit to tie the knot. Pacarku bukan tipe cowok yang romantis. So, soal melamar dan mengajak aku untuk ada di hidupnya juga di ungkapkan bukan dengan cara yang fancy, yang instagramable, yang dipersiapkan untuk di share ke social media. Enggak sama sekali. Cuman lewat pembicaraan yang cukup serius, dan terucaplah di akhir tahun 2016 lalu.

So why? Sebelum kalian semua pada nanya, “Loh rin, kapan lamarannya?” “Kok enggak ada acara lamaran?” “Kok tiba-tiba nikah?” Ini kenapa aku buat postingan supaya kalian tau alesannya. Aku enggak mau sesumbar juga sih, ini karena udah 2 bulan menuju pernikahan aja aku share. Biar semua pada paham, konsep pernikahan seperti apa yang kita buat.

Foto di bawah ini loh acara lamaran kita :

Processed with VSCO with m5 preset
Father’s & Parent’s in-law to be
Processed with VSCO with m5 preset
Mother’s & Parent’s in-law to be

 

Sederhana, namun sarat makna (seedhaaappp…)

Kok gak ada acara Engagement kaya yang biasa dilakuin pasangan lain, Rin?

Papaku sekarang tinggal di Cilegon-Banten, keluarganya sebagian udah menetap disana. Mamaku tinggal di Bandung, keluarganya di Cianjur & Bandung. Pacarku tinggal di Jakarta, keluarga mama & papanya ada yang di Jakarta, Bandung, Jogja & Palembang. Kebayang kan, pas moment foto di atas gimana perjalanannya.

Akhirnya kami (berdua) putuskan untuk meniadakan acara Lamaran Resmi atau Engagement, karena sudah di wakilkan oleh keluarga inti aja. Jadi untuk keluarga besar (yang alhamdulillah mengerti) di brief masing-masing keluarga untuk teknis acara di hari H.

Terus keluarga besar gak saling kenal dong Rin nantinya?

Kenal dong, jadi di hari H agar lebih saling mengenal antara kedua keluarga besar. 1-2 jam sebelum prosesi ijab kabul, diadakan acara perkenalan kedua keluarga besar (internal keluarga) calon pengantin perempuan dan calon pengantin laki-laki. Karena inti dari acara lamaran kan ini. Dengan kondisi diatas, makanya kami buat lebih efektif di saat hari pernikahan.

Kamu gak di pingit emang Rin?

Ya aku enggak ada disitu beb, aku di ruangan lain. Pake mic & speaker aja saut-sautan. Lagian hari gini, nyiapin serba sendiri mah boro-boro di pingit beb. Mesti sering komunikasi biar enggak ada yang miss.

Di hari H nanti kita akan mengumpulkan keluarga, kerabat dekat, teman-teman dekat yang bersedia hadir di acara kita nanti. “Kok temen-temen deket aja sih? Ih pilih-pilih temen.” Bukan gak mau ngundang semua beb, bukan Nagita Slavina ama Raffi Ahmad. Gak ada endorse beb! Hehehe

Rumah sama sekolah anak mahal kan ya beb?

Nanti aku akan share lagi soal “nikmatnya” persiapa menuju hari H yaa…

Bismillah, doakan aku & Anza ya teman-teman semua!

 

 

xoxo,

karin

Leave a Reply

Scroll Up