LEAVING CAREER, IS IT DISASTER?

Pertama kali memikirkan ini, sangat-sangat ragu dengan diri sendiri. Apakah kami bisa bertahan secara ekonomi hanya dengan penghasilan dari satu pintu saja? Apakah aku akan bosan, menunggu datangnya buah hati sampai waktunya nanti? Apakah bisa mencari tambahan uang hanya dengan di rumah, tidak hanya untuk saat ini bahkan sampai nanti-nanti saatnya aku sudah mengurusi anak pertama kami? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul dibenak kepala aku. As you know, mostly Libra lah(aku gak percaya, tapi disekeliling aku yang zodiaknya ini ya orangnya overthinking. Ya gak sih?).

Ya, aku memutuskan untuk resign dari kantorku. Ini adalah pilihan yang paling baik setelah dipikir-pikir berulang-ulang. Mungkin sebagian yang sudah mengalami bagaimana rasanya mengandung dan melewati trimester pertama, pasti tau rasanya kita sebagai ibu baru yang pertama kali mengandung. Menyesuaikan diri dengan hormon yang terus berkembang didalam tubuh yang setiap ibu mengalami syndrome yang berbeda-beda. Ada yang tidak merasakan apa-apa sama sekali sampai melahirkan, ada yang sampai yang harus bedrest dan di rawat intensif di rumah sakit. Semua tergantung kondisi ibu dan janin. Fyi juga untuk calon-calon ibu dan perempuan diluar sana yang ingin dan sedang merencanakan kehamilan. You will know until you get pregnant hehe

Berlaku juga untuk kasus aku, lengkapnya mungkin nanti aku akan ceritakan bagaimana trimester awal aku karena Alhamdulillah sekarang usia kandungan aku sudah menginjak 14weeks1day, doakan untuk selalu sehat ya buibuk! Sudah melewati setengah perjalanan trimester 2. Aku ingin bandingkan dulu, apa-apa saja perubahan yang terjadi di level ke 2 ini, baru nanti aku coba ceritain yaa…

Memang Seberat Itu Sampai Harus Resign?

Dikondisiku ini mungkin tidak seberat calon-calon ibu lain yang kondisinya memang butuh untuk benar-benar menjaga amanah Allah yang kehadirannya hanya Dia yang berhak mengatur. Tapi memang mengandung itu kita seperti menikah lagi. Menikah dengan calon anak kita yang tumbuh didalam tubuh kita. Apapun yang kita rasakan, dia bisa merasakannya juga. Gak boleh egois hanya memikirkan diri sendiri. Harus ikhlas dan sabar dalam menjalani setiap prosesnya. Yang gak boleh saat hamil salah satunya adalah stress.

Dunia pekerjaanku adalah industri kreatif, dituntut tidak hanya fisik yang bekerja tetapi juga pikiran untuk menghasilkan ide-ide yang dituangkan dalam bentuk audio visual untuk disajikan dan ditonton oleh khalayak. Jadi selain membuat ide, dibalik produksinya pun ada kami sebagai pengarah atau director idenya. Belum lagi jika berhubungan dengan client, pasti ada tuntutan pikiran lebih karena harus menyiapkan beberapa spare ide untuk dijual, belum revisi-revisi. Belum lagi over time, harus lembur karena produksi belum bereslah, atau ada revisi editing, atau apapun itu kalian pasti paham yang berada di industri yang sama. Belum lagi perjalanan yang harus ditempuh dari rumah ke kantor begitupun sebalikanya dari kantor ke rumah(karena jarak rumah ke kantor enggak deket beb). Belum lagi kebijakan-kebijakan perusahaan, pemerintah atau swasta sepertinya sama aja kebijakannya. Cuma boleh cuti melahirkan aja. Iya gak sih? Cmiiw.

Disini aku menyerah. Daripada aku berkerja jadinya gak maksimal, malah jadinya merugikan perusahaan. Lebih baik aku fokus, keluar dari perusahaan dan bersiap untuk merawat kandungan yang selanjutnya akan merawat anakku kelak ketika dia lahir. Daripada bayi aku nanti ikutan capek atau stress memikirkan banyak hal yang bayarannya belum tentu setimpal dengan apa yang dia rasakan ketika dalam kandungan. Kasian kan.

Bottom line lagi: mungkin bagi yang bekerja di industry yang sama atau bahkan malah kondisinya lebih parah dari aku sisi apapunnya itu, adalah pilihan calon ibu masing-masing ya. Monggo juga kalau pun tetap bekerja, itu juga tidak masalah selama ibu dan kandungan bisa mehadapi situasinya. Beda cerita mungkin dengan calon ibu yang bekerjanya office hour ya, bukan seperti kami pekerja kreatif. Kalo aku gak mau ambil pusing untuk tetap memaksakan bekerja, tapi calon anak justru merasa dikesampingkan. Psikologisnya secara tidak langsung terbentuk ketika dia masih berada didalam kandungan ibunya.

Perasaan takut terus menghantui, tapi kalo takut terus aku gak beriman dong. Sampai akhirnya baca tulisan ini yang di share oleh Andien Aisyah:

Ibnul Qayyim berkata,

“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.

Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Allah membuka untuknya DUA JALAN REZEKI yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Allah mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.

Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Allah membuka EMPAT JALAN REZEKI lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.

Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Allah –Ta’ala- membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- DELAPAN JALAN REZEKI, itulah pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.

Dan begitulah Allah Ta’ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga.” (Al Fawaid, hal. 94, terbitan Maktabah Ar Rusyd, tahqiq: Salim bin ‘Ied Al Hilali)

Sumber : https://rumaysho.com/10276-tak-perlu-khawatir-dengan-rezeki.html

Setelah membaca ini, aku jadi berpikir. Kalau anak yang ada didalam kandungan aku aja sudah diatur oleh Allah SWT, masa iya rezekinya juga enggak diatur dulu sebelum dilahirkan. Sekecil apapun itu yang nanti aku dapatkan setelah resmi keluar dari kantor. Itu adalah rejeki yang harus disyukuri.

Mungkin dalam pikiranku adalah, gimana caranya setelah memutuskan resign aku masih tetap bisa produktif dan produktif disini tidak hanya begitu saja. Tapi bisa sedikit membantu beban suami aku seenggaknya untuk sekedar jalan-jalan liburan atau belanja keperluan pribadi ya melalui keahlian aku. Satu-satunya ya menulis. Teteeeuup nanti pun kalo udah jadi ibu masih pengen kece sebagai mahmud modis ya, moms? Hehehe

Basic menulis blog pribadi, creative writing di perusahaan, content creator untuk client, siapa tau bisa kerjasama dengan kamu-kamu disini yang membutuhkan karena aku juga butuh jadi kita simbiosis mutualisme hehehe. Mudah-mudahan bisa selalu produktif yaa guuys…

Bismillahirahmanirahim, start from March 1st 2018 resmi menjadi : IBU RUMAH TANGGA dan calon ibu satu anak. Doakan aku ya teman-teman!!

xoxo,

karin

5 Comments

  1. Antung apriana

    February 24, 2018 at 11:28 am

    Semoga lancar terus kehamilannya sampai masa melahirkan nanti ya, mbak 🙂

    1. karinakamil

      February 24, 2018 at 11:29 am

      Terimakasih mba Antung doanya, sehat selalu ya mbaa 😊

  2. Herlina Limmi

    July 26, 2018 at 9:46 pm

    Dear Karina,

    Selalu ada yang harus lebih diprioritaskan. Selamat karena kamu sudah berani mengambil keputusan yang besar. Ada di samping pertumbuhan anak itu gak ternilai loh harganya. Sebagai seorang ibu (yang juga memutuskan utk resign pada saat mengandung dan fokus ke anak) aku sangat mengucap syukur atas keputusan ku 22 tahun lalu. Bisa mendidik dan membentuk karakter anak anak ku dg baik itu kepuasan tersendiri. Anak pertamaku bisa tumbuh menjadi wanita yang dewasa, bertanggung jawab, dan membanggakan orang tuanya (lulus cumlaude full beasiswa). Isnt that amazing? I wish you all the best ya Karina, semoga apapun keputusanmu…. itu yang terbaik buat dirimu, suamimu, dan calon anakmu. Amin

  3. Herlina Limmi

    July 26, 2018 at 9:51 pm

    Sebagai seorang ibu dari 3 orang anak… keputusanmu utk berhenti bekerja demi membesarkan anak…. itu suatu keputusan yang terbaik kok. 5 tahun pertama kehidupan anak krusial banget (aku seorang psikolog). So, goodluck with your motherhood ya mba Karina. You will do good… ❤

    1. karinakamil

      July 27, 2018 at 5:27 pm

      Awalnya bingung, ternyata gak pegang uang sendiri atau gak mentreat diri dengan upah bulanan semacam ada yang hilang. Tapi di afirmasi, kalau aku gak ambil keputusan ini entah gimana janin ikut stress karena ibunya yang kecapean pekerjaan dan perjalanan. Bersyukur melalui sudut pandang lain. Terimakasih mba Herlina Afirmasinya ❤️

Leave a Reply

Scroll Up