Artikel Motherhood

Tanyakan 5 Hal Ini Sebelum Mengandung Anak Lagi

September 1, 2019

Mempunyai rencana hamil anak ke 2 atau selanjutnya? Tanyakan 5 hal ini pada diri anda dan suami sebelum memberi adik untuk si kakak.

Melihat teman atau kerabat yang sedang mengandung anak ke dua biasanya timbul dalam hati “Kangen juga ya hamil lagi!”. Biasanya ini terjadi ketika gender si kakak meleset dari keinginan, tadinya ingin perempuan ternyata laki-laki. Momok seperti ini juga terjadi ketika acara keluarga besar, muncul pertanyaan diluar batas yang sebaiknya tidak ditanyakan “Kapan si kakak punya adik?”. Wong kita yang hamil, yang melahirkan, om tante yang kebagian ngasuh pas lucu-lucunya aja(dalam hati loh ya itu buk!).

Menurut saya, diluar dari sudah atau belum rencana tentang kapan sebaiknya mengandung anak ke dua. Ada beberapa pertanyaan yang khususnya harus ibu tanyakan kepada diri sendiri. Saya pribadi dan suami belum mantep merencanakan kapan anak kedua sebaiknya dilakukan. Maka dari itu saya menanyakan hal-hal ini pada diri saya sendiri.

1. Berapa anak yang ingin saya punya?

Berapa jumlah anak yang ingin dipunyai akan berpengaruh kepada jarak antara kakak dan adiknya. Menurut saya jarak ideal antara adik dan kakak itu 2 tahun atau 4 tahun. Usia 0-2 tahun adalah usia emas bagi seorang anak, dimana mereka butuh dampingan dari orang tuanya untuk tumbuh dan berkembang. Seperti tulisan saya di KumparanMOM tentang 8 Tanda Kecerdasan Anak. Apalagi diusia ini anak sedang senang sekali eksplor hal disekitarnya.

Sedangkan usia 4, si kakak sudah cukup mengerti tentang keberadaan anggota keluarga barunya nanti. Yang membedakan lagi, kakak bisa ikut menjaga adiknya. Meski diusia segini akan ada rasa cemburu karena merasa semua perhatian beralih pada adik bayi. Tapi dengan jarak ini, ibu dan bapak cukup punya waktu untuk merencanakan dana pendidikan mereka.

2. Gimana dengan impian berkarir?

Bagi sebagian ibu, bekerja adalah waktu untuk dirinya sendiri alias me time. Merasa lebih produktif dan aktif dengan bekerja rasanya seperti mengembalikan kepercayaan diri. Ditambah lagi bisa menghasilkan materi untuk membeli keperluan sendiri hingga membantu pemasukan keluarga. Bagi saya sendiri, memiliki pemasukan untuk disimpan maupun dibelanjakan sesuai kebutuhan sendiri atau si kecil merupakan sebuah kebebasan. Contoh kondisi dimana ingin membeli makeup, pakaian, atau sepatu (karena saya gak terlalu suka koleksi tas) tidak perlu cemas dengan pos keuangan keluarga. Tapi tetap sisihkan sebagian untuk simpanan darurat rumah tangga.

3. Apakah saya sudah siap untuk hamil dan melahirkan lagi?

Kalau baca postingan saya baik di blog tentang menjadi ibu maupun di instagram. Salah satu alasan kenapa saya masih memikirkan untuk melahirkan lagi ada prosesnya yang diintervensi. Mungkin harusnya saya sudah ikhlas saja jika memang anak saya harus di SC. Tapi rasanya batin saya masih belum terima. Kalau saja saat itu saya minta pulang dari rumah sakit dan menunggu sampai dia mau keluar dengan sendirinya tanpa paksaan mungkin beda cerita. Atau jika saja induksi yang dilakukan saat itu benar-benar menghormati keputusan saya bukan hanya syarat saja mungkin saya ikhlas. Saya sangat percaya pada saat itu anak saya bisa lahir dengan pilihannya sendiri, karena saya mengusahakan itu selama hamil. Makanya, saya ingin bisa merealisasikannya nanti saat adiknya lahir. Lagi-lagi semoga Allah mengizinkan.

4. Apakah sudah punya cukup ruang untuk anak selanjutnya?

Hubungan dengan anak adalah hal yang paling membahagiakan. Tapi hubungan dengan pasangan adalah hal yang juga sangat penting untuk dirawat. Dengan siapa hari tua nanti kita akan mengabiskan waktu dan mengobrol jika bukan dengan pasangan? Maksud dari statement saya adalah akibat dari jika belum ada ruang untuk anak selanjutnya. Seiring bertambahnya usia anak, sex after baby adalah hal yang cukup “tricky“. Tidak boleh dilakukan satu ruangan dengan anak-anak diatas satu tahun. Saya pernah baca di instagram Parent Talk katanya begini:

American Academy of Pediatrics merekomendasikan jika orang tua ingin berbagi ruang dengan bayi boleh saja asalkan ada batasnya. Jangan lebih sampai mereka berusia 1 tahun.⁣

Setelah anak menginjak usia satu tahun, sebaiknya pisahkan dia dengan kamar lainnya. Atau orang tua bisa bercinta di tempat lain meskipun Si Kecil sedang tertidur. Sehingga anak tidak meniru atau merekam hal tersebut di otak dan daya kognitifnya.⁣

@parentalk.id

Sebagai team co-sleeping seperti saya. Saya merasakan hal ini menjadi momok yang penting. Memiliki ruangan lain untuk si kakak, dan adik sementara ibu dan bapaknya “me time“. Apalagi jika kebetulan tinggal di rumah dengan penggunaan ruangan lebih terbatas. Bahkan untuk urusan sex pun jadi tidak “lepas” karena sssttt! takut berisik, malu hehehe.

5. Apakah ini hanya keinginan sesaat atau sudah benar-benar yakin?

Melihat teman-teman sebaya yang sudah memiliki anak dua bahkan tiga atau sedang mengandung rasanya iri. Saya sempat berpikir “Apa punya anak satu aja ya? Kasian kalau harus bagi-bagi saya sama adik bayi, aku bisa gak ya?” Tapi rasanya seru dan menyenangkan juga ya memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan (jika diizinkan Allah). Mungkin punya anak lebih dari satu terasanya kalau sudah usia senja. Akan ada waktunya mereka berbalik mengurusi orang tuanya. Lalu mengapa saya bisa bilang saya benar-benar yakin adalah saya belum selesai dengan diri saya sendiri pasca melahirkan. Masih banyak hal yang belum saya ikhlaskan saat melahirkan kemarin.

This is my personal thoughts dan semuanya juga kembali lagi, jika Allah sudah berkehendak rencana hanya tinggal rencana. Sejauh ini saya belum ada rencana memberi adik, bisa diusianya yang pas 2 tahun atau 4 tahun saja baru punya adik.

Jadi sudah siap memberi adik buat si kakak mom?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *