TIPS : WEDDING PREPARATION “TAHAN EMOSI, CARI SOLUSI” #KARINANZASAH

Sebenar-benarnya, ku ingin ceritakan soal pernikahan aku itu sesaat setelah selesai menikah. Tapi nyatanya, wow menikah itu bukan hal yang happy ending kaya difilm-film Barbie dan pangeran. Pernikahan adalah kerjasama dalam proses, yang kita tahu bahwa proses bukanlah hal yang mudah. Setuju? Tapi pasti menyenangkan, karena bersama orang yang kita sayangi. Bukan lagi soal aku atau kamu tapi apa yang menjadi baik untuk kita berdua demi keluarga kecil ini. Menikah bukan sebuah jalan keluar untuk suatu masalah, melainkan timbul masalah baru. Ya, mungkin nanti yang belum mengalami akan tau sendiri. Intinya, kebahagiaan pernikahan yang langgeng sampai tua bahkan sampai mati itu adalah kerjasama dan kerja keras pasangan. Sotoynya aku sih gitu hehehe

Belum apa-apa udah panjang kan tuh? Ya, tapi begitulah pernikahan.

Termasuk persiapan pernikahan juga bukan hal yang mudah, tapi menyenangkan sesungguhnya. Seperti postingan jauh sebelum ini, aku sempatkan share beberapa cerita awal pertemuan keluargaku dengan suami. Memasuki tahap setelah lamaran adalah hal yang menegangkan. Kenapa? Karena, jauh sebelum lamaran aku(konsultasi dengan mamaku juga) sudah menentukan dimana, bagaimana dan kapan pernikahanku akan dilaksanakan. Namun karena satu dan lain hal, semua berubah 180 derajat dan super duper bikin deg-deg serrr. Ditambah karena pengantin jauh dari tempat dilaksanakannya acara.

Ya, aku menikah di Bandung, 7 Oktober 2017 di tempat mamaku. Sedangkan aku dan suamiku kerja dan tinggal di Jakarta. Kebayangkan ya kita bulak-balik terus Jakarta-Bandung demi acara bahagia kami.

Awalnya tempat yang kami sudah booking itu berkonsep outdoor, aku sampe sempat brief vendor dekorasinya seperti apa yang aku inginkan. Kebetulan juga vendor ini paham bagaimana yang aku inginkan dengan konsep sesimple mungkin. Disitu aku menginginkan suasana yang mingle dengan tamu maupun keluarga, tidak ada pelaminan seperti pada umumnya tapi ada spot untuk foto bersama. Dengan tone warna white-gold udah kebayang gimana lampu-lampu bergelantungan menghiasi malam kami.

Tapi balik lagi, begitulah pernikahan. Kita gak bisa saklek dengan satu plan saja, harus punya plan B bahkan C, D, E, F dengan berbagai kemungkinan. Kembali ke roothnya, sejatinya pernikahan dibudaya kita adalah hajat orang tua. Meski beberapa kali aku meyakinkan orang tua untuk membuat sesederhana mungkin tanpa harus mengundang banyak orang, sehingga mempunya intimate dengan keluarga dan teman-teman terdekat saja. Tapi kita tidak bisa memaksakan presepsi dan keegoisan kita pada sebuah persiapan pernikahan.

Menurutmu, apakah 100 pax undangan cukup?

Bagiku sangat-sangat cukup. Kesederhanaan itu adalah konsep kami pada awalnya. Setelah pernikahan justru adalah tantangan selanjutnya, maka dari itu uang dan tabungan yang kita punya justru(inginnya) kami alokasikan untuk kebutuhan rumah tangga setelah menikah.

Rencana tinggal rencana, ibuku adalah alasan utama mengapa semua keegoisan itu luntur. Sebagai anak pertama, sebagai anak yang lahir di era 90an, yang orang tuanya ingin melakukan yang terbaik menurutnya di hari bahagia anaknya, ya kenapa tidak? Keegoisan seketika sirna ketika fokus pada esensi menikah “yang penting selamat dan semua lancar”.

Akhirnya terselenggara acara kami dengan drama yang cukup panjang, melibatkan perasaan yang begitu emosional(ya gitu lah pokoknya). Namun terbayar ketika ucapan ijab kabul dan hadirnya orang-orang tercinta kami dihari yang bahagia itu.

TIPS MEMPERSIAPKAN PERNIKAHAN

  1. Tentukan tanggal. Bagi kami tidak ada ketentuan khusus dalam menentukan tanggal, kapanpun adalah hari baik. Yang penting adalah semua persiapan matang dari mulai urusan finansial dokumen dan syarat nikahnya.
  2. Siapkan dokumen yang dibutuhkan untuk KUA. Jika kamu dan pasangan beda daerah, selesaikan dulu semua dokumen-dokumen pasangan laki-laki lalu bawa ke KUA tempat kalian menikah. Dokumennya apa saja, beda-beda sih. Harus tanya RT/RW/Kelurahan masing-masing yah. Untuk background foto pun aku pilih biru, karena pe-ngen aja hahahaha.
  3. Tentukan tema/konsep pernikahan. Ini akan menentukan venue yang seperti apa yang mendukung konsep pernikahan kamu.
  4. Lamaran bicarakan sesuai kesepakatan keluarga. Ada yang pake lamaran, ada yang enggak. Ada yang pas lamaran bawa seserahan, ada yang seserahannya pas akad. Jadi ini tergantung kesepakatan atau biasanya di pihak perempuan(karena aku adat sunda).
  5. Sesuaikan budget dengan konsep, jangan sesuaikan konsep dengan budget. Jangan paksakan jika secara finansial kita tidak bisa sesuai dengan budget. Cari jalan keluar yang lain, cari konsep yang lain yang sesuai dengan budget yang kamu punya.
  6. Cari venue. Jika konsep outdoor, cari benar-benar tempat yang mendukung dekorasi. Saranku, dikonsep outdoor usahakan jangan terlalu banyak keluar budget. Manfaatkan ambiance tempat, fokuskan ke lighting. Sedangkan untuk indoor, usahakan peletakan buffet tidak berdekatan dengan pelaminan. Sehingga traffic undangan tidak menumpuk. Alhamdulillahnya di acaraku seperti ini, memang didepan pelaminan seperti terlihat sepi. Tapi ramai di buffet dan aman diantrian pelaminan dan foto.
  7. Tentukan attire. Baik pengantin dan keluarga harus sama-sama dibicarakan. Ingin baju dengan warna dan design seperti apa, menggunakan adat atau tidak, yang sesuai dengan konsep pernikahan. Jangan sampai salah konstum sehingga malah merepotkan diri kamu sendiri atau keluarga. Sesuaikan dan pastikan itu nyaman dipakai.
  8. Pilih vendor yang mengerti selera kamu. Mulai dari dekor, MUA, photo & video, attire akad & resepsi, MC, music dll. Apalagi untuk urusan make up pengantin, ini untukku sangat krusial. Untungnya temanku MUA yang sudah biasa menangani pengantin, dan tau aku maunya make up seperti apa di hari itu bersedia meluangkan waktunya. Disini aku make up tidak sama sekali ingin terlihat pangling. Entahlah, jadi kaya bukan jadi diri sendiri. Dihari spesial pula kan?
  9. Re-check selalu segala kebutuhan. Mulai dari yang paling kecil hingga paling besar. Selalu cek ulang dan cek ulang lagi, jangan sampai ada yang belum terkomunikasikan.
  10. Koordinasikan dengan keluarga atau Wedding Organizer semua kebutuhan kamu, apalagi di hari H. Usahakan ada yang menghandle penghulu, yang bertanggung jawab atas seserahan dan mas kawin ketika ijab kabul. Yang tidak kalah penting adalah penanggung jawab make up keluarga, karena pengalamanku untuk penambahan dll kita dikenakan charge lagi. Lumayan banget kalo bisa di press!
  11. Tentukan bulan madu. Sesimple dan sesingkat apapun, kamu tetap butuh bulan madu. Aku menyempatkan diri pindah hotel dengan suami karena ingin bulan madu dengan suasana yang nyaman. Walaupun belum sempat bulan madu yang jauh-jauh, tapi yang penting kualitasnya.
  12. Kontrol emosi, tenangkan diri untuk mencari solusi. Sungguh nikmat sekali mempersiapkan pernikahan dengan berbagai dramanya. Tips terakhir ini adalah yang sering teman-temanku bilang. Jadi percayalah, emosi dan ego kamu harus bener-bener diredam dalam hal ini. Karena ini berlangsung sampai at least H-seminggu bahkan H-3 hari.

MUA by @deriabarmadie | Siger sunda by @deriabarmadie | Attire akad by @ferizalressa_new | Wedding shoes by @adityshoes | Bride attire reception by @f.r.a.g.r.a.n.c.e | Photography by @hanif.irfansyah @teateoy @renggadwicr | Videography by @dikipliw | Photobooth by @cleibooth | Hosted by @sayaivan | Music entertainment by @iankanlah | Venue @thebnbbdgmetro | Decoration by @design.magenta | Organized by @abee.project

Kami ucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu sehingga terselenggaranya acara yang sangat sederhana namun syarat makna.

PS. Foto menyusul di upload yaa, mau diresize dulu biar enggak over capasity hostingnya.

xoxo,

karin

1 Comment

  1. MAKE UP TUTORIAL ALA PUTRI MARINO - Karina Kamil

    March 13, 2018 at 2:48 pm

    […] baca dan pengen tau make up aku saat menikah dan pengen baca juga tips persiapan menikah bisa cek Wedding Preparation: Tahan Emosi Cari Solusi. Segitu aku udah minta seflawless mungkin, enggak mau make up serem kaya […]

Leave a Reply

Scroll Up