WORK FROM HOME MOM, APA BEDANYA WORKING MOM AT OFFICE?

Menjadi ibu baru dan berpikir untuk menjadi work from home mom? Bisa sambil ngurus anak, suami, rumah sekaligus deadline yang bejibun. Sini aku mau cerita sedikit, tentang bagaimana rasanya jadi work from home mom.

04.43 am (gak bisa tidur abis begadang kerja)

Dimana harusnya ibu ikutan bobo bareng suami sama anak, tapi masih melek gara-gara mikirin deadline kerjaan yang hanya bisa dikerjakan ketika anak udah benar-benar tidur nyenyak. Walaupun sesekali mampir ke kamar buat kasih susu dan gantiin popok. Bahkan kadang-kadang ikut ketiduran sampai pagi dan kerjaannya malah ke skip.

Diatas aku bilang bejibun kenapa? Aku jelasin dulu ya work from home itu apa. Kerjaan kantoran yang dikerjain di rumah. Tetap ada deadline, target, report, brain storming. Bedanya semua by online, tapi sesekali ke kantor buat meeting atau briefing atau brainstorming tentang hal-hal baru.

Alasan seberat apapun tetap maju dan bertahan, Semesta.

Saat usia kandungan 3 bulan aku memutuskan untuk fokus di kehamilan dan meninggalkan karir. Lalu berbekal hobi nulis-nulis dan foto asal-asalan mengklaim diri sebagai blogger. Diundang kesana-sini buat hadir di event mengenai campaign tertentu, bertindak sebagai buzzer atau dikirimi produk untuk review dengan imbalan fee yang lumayan. Note ya, lumayan versi aku itu ya lumayan aja buat jajan Chatime atau bayar domain hosting setaun.

Lama kelamaan aku ngerasa harus lebih serius, karena rupanya banyak lembaga yang butuh kami(disini sebagai blogger). Bagaimana meningkatkan engagement di social media atau page views di blog itu gak mudah. Semua hal dipikirkan; konten, persona(self branding), foto, sampai feeds di instagram dan konsistensi diri.

Sedikit demi sedikit terus berksplorasi dengan berbagai hal. Muncul kategori baru: early motherhood di dalam konten. Hal-hal basic yang aku tahu dan aku alami, biasanya aku bagikan di instagram stories.

Melihat realita, “Oh ya ternyata secara finansial semakin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.” Lalu memutuskan ingin bekerja kembali, dengan syarat dilakukan di/dari rumah.

Beberapa kali sempat menghadiri interview di instansi korporat, dengan konsekuensi harus full time di kantor. Secara batin tidak yakin, tapi kenyataan memang butuh me time. Ya, ternyata bekerja itu me time untuk aku. Ternyata memang Allah belum mengizinkan aku untuk menjadi budak korporat lagi.

Beberapa kali juga datang silih berganti tawaran-tawaran pekerjaan sebagai freelancer. Tapi belum ada jodohnya dengan aku, si ibu yang ingin bekerja less stress. Karena mikirin konten diri sendiri aja lumayan bikin stress, kalau harus kembali stress dengan drama-drama pekerjaan terima kasih banyak aku mundur aja. Eh, ada juga yang nyangkut, dan berhubungan juga dengan apa yang sudah aku lakukan. Yes, aku menjadi beauty content writer di salah satu e-commerce. Linknya pun tidak laim tidak bukan dari sesama blogger.

Sampai suatu ketika, ada yang menghubungi aku dengan perantara teman semasa kerja yang notabene aku pernah presentasi pada si penawar kerjaan ini. Aku ajukan semua syarat, dia mengamini. Alhasil sekarang malah kerjaan jadi banyak. This is homework attack, gimana enggak?

  1. Pekerjaan sebagai blogger: produk ini itu yang harus di posting, di foto, di video, di tulis dan enggak cuma sebuah.
  2. Pekerjaan sebagai freelance beauty content writer dengan target quota tulisan bulanan harus terpenuhi agar sesuai dengan fee yang diharapkan. Mau uang, ya kerja! Motto freelancer.
  3. Pekerjaan sebagai script writer dengan target yang sama, namun tanggung jawab yang berbeda. Lebih berat? Iya, karena as profesional pengalaman kerja selama ini dipertanyakan dan dipertanggung jawabkan.

Lalu apa masalahnya?

  • Momong anak yang pengennya nempel terus seharian.
  • Beres-beres lain-lain perkara kasur atau ngepel dsb.
  • Dealine mundur karena harus curi waktu yang sempit waktu anak tidur, which is malem dan udah gelap.
  • Waktu kerja lengang pasti malem tapi keburu capek.
  • Lack of sleep, of course!

Solusinya?

Ya ini konsekuensi atas keputusan yang aku ambil. Pusing iya pasti, tapi ini adalah tantangan baru buat aku. Bagaimana menaklukan itu semua tapi tetap maksimal. Caranya:

    Udah tahu kalau malam itu jam kerja yang pas, ya kerjain semaksimal mungkin dimalam hari. Pasti begadang, iya pasti. Siang sempetin nyicil kerjaan yang harus dikerjakan siang hari.
    Cari bantuan kalau kira-kira dikejar sama waktu yang super sempit. Aku sendiri saat ini masih tinggal sama mertua dan sangat amat terbantu. Jadi aku titip Sega sebentar, walaupun kalau dia haus aku susuin dulu. Terus balik lagi ngerjain biar cepet selesai.
    Yang bisa dilakuin sambil nursing baby: bikin draft di handphone, apapun idenya tulis dulu aja, cari referensinya juga. Karena satu-satunya tools yang bisa nempel terus ya smart phone.
    Download aplikasi pendukung, jika satu-satunya cara yang bisa dilakukan ketika sama sekali gak bisa pegang laptop atau kompi dengan mengerjakannya via smart phone.
    Siapin konten jauh-jauh hari untuk keep up the engagement. Still working on it!

Kesimpulannya, apakah bedanya work from home mom dengan working mom at office? Menurut aku sama aja, bahkan lebih berat bekerja di rumah dibandingkan di kantor. Bisa pasti, namun tidak mudah. Manage waktu is the key, still still and still working on it! Masih berantakan banget. Satu-satu dicicil biar cepet selesai tepat waktu. Capek? Pasti, tapi yakin kita pasti bisa. Mudah-mudahan. Semangat moms, you’re not alone!

love you,

karina

Leave a Reply

Scroll Up